
Masjid Lautze. ©2016 Lintastoday
Masjid secara harfiah merupakan bangunan tempat beribadah bagi umat Islam. Tapi tidak hanya itu di Masjid Lautze Bandung. Misi lainnya adalah pusat informasi Islam bagi etnis Tionghoa, umumnya bagi masyarakat luas yang memang ingin tahu banyak tentang Islam.Masjid Lautze Bandung didirikan pada 1997 silam. Masjid Lautze Bandung adalah yang kedua didirikan seorang mualaf asal Tionghoa bernama Oei Tjeng Hien atau dikenal Haji Karim Oei. Sebelumnya Haji Karim mendirikan Masjid Lautze di daerah Pecinan Jakarta pada 1991.
Bentuknya tidak amat besar dan juga tidak seperti masjid pada umumnya. Berada di lahan tidak lebih dari 10 x 10 meter, Lautze laiknya sebuah rumah. Bahkan bisa dikatakan menyerupai tempat makan para etnis Tionghoa.
Tampilan dari luar nuansa oriental memang cukup terasa. Didominasi cat merah, Masjid Lautze sepertinya memang ingin menunjukan bahwa eksistensi warga muslim Tionghoa di Kota Bandung ada di sini. Bentuk kabah di atasanya cukup menunjukan bahwa bangunan tersebut adalah masjid.
Saat masuk ke dalam masjid berkapasitas sekitar 50 orang itu, interior yang ditampilkan cukup unik. Beberapa ornamen seperti lampu, tangga dan partisi diukir layaknya ornamen etnis Tionghoa. Namanya masjid, mimbar tetap dihadirkan.
Oiya, di dalam masjid terdapat sebuah foto bingkai cukup menarik perhatian juga. Obyek foto itu ternyata adalah Bapak Proklamator Soekarno yang mejeng bersama Karim Oei dan Buya Hamka. Foto itu dituliskan diambil pada 1938 silam di Bengkulu.
Humas Masjid Lautze Bandung, Jesslyn Reyner cukup hangat menyambut kedatangan merdeka.com pagi yang cerah itu. Tapi sebelum memulai perbincangan Jesslyn yang sudah 10 tahun menjadi pengurus masjid meminta pintu masjid ditutup.
"Ini masjid kan di pinggir jalan, jadi berisik banget. Jadi kalau orang yang ingin masuk pasti ragu. Jadi sebenarnya jangan ragu karena masjid ini ditutup maksudnya biar enggak berisik dan tidak berdebu," tutur perempuan berkaca mata itu.
Dia mengakui banyak orang sangsi untuk masuk ke dalam masjid tersebut. Padahal pihaknya akan amat terbuka bagi siapapun yang ingin beribadah ataupun mencari informasi soal masjid tersebut.
"Ini masjidkan berada di pinggir jalan banget. Kadang orang yang melintas suka penasaran lihat-lihat, malah katanya pernah disangka tempat makan," ungkap Jesslyn yang merupakan seorang mualaf ini.
Bicara mengenai mualaf, kebetulan pagi itu Masjid Lautze kedatangan seorang perempuan berkaca mata, namanya Ane. Ternyata Ane seorang mualaf juga. Kedatangan dia tak lain untuk menyumbangkan minuman untuk buka puasa.
"Tadi itu (Ane) mualaf. Ya mereka datang ke sini untuk menyumbang minuman untuk buka puasa. Karena orang yang memang suka ke sini serasa memiliki masjid ini. Sehingga mereka datang lagi ke sini, cuma ingin sebatas salat atau cuma istirahat sebentar," terangnya.
Ane, hanyalah satu dari sekian banyak yang menjadi pemeluk Islam. Sebab Jesslyn pun merupakan mualaf sejak 2003 lalu. Singkat cerita, Jesslyn menjadi mualaf diilhami saat melintas dan penasaran dengan apa yang ada di dalam masjid Lautze. Hingga dewasa ini Jesslyn seolah 'berjodoh' dengan Masjid Lautze.
"Orang yang ada di sini. Dan ke sini lagi itu memang memiliki kesamaan nasib, yakni seorang mualaf," ujarnya seraya menyebut bahwa Lautze sudah mengislamkan sebanyak sekitar 130 orang sejak 1997.
Pada Ramadan ini Masjid Lautze juga membuka kegiatan khusus. Kegiatan ke-Islaman dilakukan usai salat Ashar sampai menjelang Maghrib. Kegiatan meliputi mengaji, bermain dan belajar, serta mengajarkan cara berdakwah yang baik.
"Kami menekankan pembinaan sejak usia dini. Jadi setiap sore mulai dari anak-anak yang masih Paud sampai anak SMA bergabung di sini untuk belajar banyak hal. Anak-anak kecil di sini sudah mulai diajarkan dakwah," ungkapnya.
Jika sudah mengetahui, Jesslyn meminta masyarakat tidak lagi sanksi untuk masuk ke masjid tersebut. Masjid akan sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin beribadah di dalamnya.
"Suka ada yang nanya kalau ke dalam harus pakai baju merah ya? Harus yang sipit ya. Ini yang harus kami ubah paradigmanya. Ini bukan masjid etnis Tionghoa saja, ini masjid bersama," imbuh perempuan 28 tahun tersebut.
