Perubahan usai 100 tahun wafat Nabi Muhammad SAW di Arab

Perubahan usai 100 tahun wafat Nabi Muhammad SAW di Arab

Perubahan usai 100 tahun wafat Nabi Muhammad SAW di Arab
Rasulullah SAW. ©istimewa
Pada tahun 732 masehi menandai seratus tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pada titik pergerakan sejarah dalam berjuang, umat Islam berhenti sejenak untuk melihat situasi umum yang ada. Seratus tahun usai wafatnya pendiri Islam, para pengikutnya menjadi penguasa kerajaan lebih besar dibandingkan kerajaan Romawi pada masa kejayaannya.

Nama Nabi Muhammad SAW, dan Allah SWT selalu dikumandangkan lima kali dalam sehari dari ribuan menara tersebar di seluruh Eropa Barat, Afrika Utara, serta Asia Barat dan Tengah. Pada saat Nabi Muhammad SAW muda, dia terlihat ragu-ragu untuk memasuki sebuah kota kerajaan besar. Di tengah kota tersebut, dirancang bak mutiara pada gelang batu emerald yang berdiri kokoh di istana.

Arabisasi kerajaan pada masanya di bawah kepemimpinan 'Abd al-Malik dan al-Walid, meliputi perubahan bahasa yang digunakan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Perubahan bahasa secara otomatis tersebut juga menyebabkan perubahan struktur kepegawaian di kerajaan romawi tersebut.

Dikutip dari buku, History of the Arabs karya Phipip K Hitti, pada masa pra Islam, uang Romawi dan Persia digunakan di Hijaz yang bergambar burung hantu Attic. Para khalifah terdahulu sudah merasa cukup dengan mata uang asing yang beredar.

'Abd al-Malik mencetak uang dinar emas dan dirham perak yang murni hasil karya orang Arab. Dia juga mengembangkan layanan sistem pos, dengan menggunakan kuda antara kota satu ke kota lainnya. Layanan itu dirancang untuk memenuhi kebutuhan transportasi para pejabat pemerintah mengenai surat-menyurat.

Semua kepala pos bertugas untuk mencatat dan mengirimkan kepada khalifah semua tentang peristiwa yang terjadi di wilayahnya masing-masing.

Tidak ada seorang muslim yang dibebani kewajiban untuk membayar pajak selain zakat atau santunan untuk orang miskin. Walaupun pada praktiknya, hak-hak istimewa tersebut hanya diberikan segelintir orang Islam-Arab. Banyak orang Berber dan Persia yang masuk Islam untuk menikmati keistimewaan finansial.

Al-Walid meninggal pada usia 40 tahun, sebelum meninggal dia sempat memperluas dan mempercantik Masjid al-Haram di Mekah serta merenovasi Masjid Nabawi di Madinah.

Dia membangun rumah sakit bagi penderita penyakit kronis dan rumah-rumah bagi penderita lapar. Al-Wald juga pernah memindahkan kubah masjid ayahnya di Yerusalem di atas gereja di Baklabak. Namun prestasi terbesarnya adalah mengubah fungsi Katedral St. Yahya menjadi masjid agung.
KOMENTAR. APA KOMENTAR ANDA?