
Kabah. © Reuters
Abdul Muthalib menjadi tokoh Quraisy yang lebih memilih strategi bertahan ketimbang menyerang untuk menghindari perang, termasuk ketika menjaga keselamatan Kakbah di Baitullah.Dikutip dari buku Sejarah Kakbah karangan Ali Husni Al Kharbuthli dituliskan bahwa dirinya paham, jika ketika itu menyerang pasukan Abarahah maka bukan tidak mungkin Kakbah mengalami kehancuran.
"Dan itu lah sebenarnya yang diinginkan olej pasukan Habasyah. Selain itu, letak geografis Mekah dan alamnya tidak layaknya untuk dijadikan medang perang," tulisnya.
Abdul Muthalib bersama suku Quraisy yakin mukjizat akan datang untuk melindungi Kakbah dari serangan pasukan Abarahah. Apa yang dilakukannya pun benar hingga akhirnya Ia menulis sebuah syair mengenai penjagaan Allah SWT terhadap Baitulla al-Haram. Berikut syairnya seperti dikutip dari buku Sejarah Kakbah:
Wahai penyeru perang engkau telah perdengarkan padaku
Dan aku tidaklah tuli akan seruan perangmu
Tapi, rumah ini memiliki Tuhan yang akan melindungi
Dia membalas setiap orang yang akan menodainya
Melempari kaum Tubba' yang bersenjata
Demikian juga Himyar dan orang-orang setelahnya
Mereka kocar-kacir,
Di urat-urat lehernya yang tertahan, nyawa meregang di tenggorokan
Bahkan kuda Asyram pun terjerambab karena berani menyerang Al-Haram
